MENERAPKAN KOMUNIKASI EFEKTIF BIDANG KEHUMASAN (BAGIAN 2)
Menciptakan Komunikasi Efektif dalam Hubungan Masayarakat
Komunikasi efektif adalah komunikasi yang bertujuan agar komunikan dapat memahami pesan yang disampaikan oleh komunikator dan komunikan memberikan umpan balik yang sesuai dengan pesan. Umpan balik yang sesuai dengan pesan tidak selalu berupa persetujuan. Komunikan dapat saja memberikan umpan balik berupa ketidak setujuan terhadap pesan, yang terpenting adalah dimengertinya pesan dengan benar oleh komunikan dan komunikator memeroleh umpan balik yang menandakan bahwa pesannya telah dimengerti oleh komunikan (Hariyanto, 2013).
Rumanti (2004) menyebutkan bahwa, komunikasi efektif harus direncanakan dengan memperhatikan situasi, waktu, tempat, dan pendengarnya.
Terdapat lima aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif yaitu sebagai berikut.
- Kejelasan, dalam komunikasi harus menggunakan bahasa dan mengemas informasi dengan jelas, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh komunikan
- Ketepatan, penggunaan bahasa yang benar dan kebenaran informasi yang disampaikan
- Konteks, bahasa dan informasi yang disampaikan harus sesuai dengan keadaan dan lingkungan dimana komunikasi terjadi
- Alur, bahasa dan informasi yang disajikan harus disusun dengan alur atau sistematika yang jelas, sehingga pihak yang menerima informasi cepat tangga
- Budaya, dalam berkomunikasi harus menyesuaikan dengan budaya orang yang diajak berkomunikasi, baik dalam penggunaan bahasa verbal maupun nonverbal, agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi.
Handoko dalam Benty dan Gunawan (2015: 133) mengemukakan bahwa cara untuk meningkatkan keefektifan dalam komunikasi adalah sebagai berikut.
- Kesadaran akan kebutuhan komunikasi efektif
- Penggunaan umpan balik
- Menjadi komunikator yang lebih efektif
- Pedoman komunikasi yang baik.
Rachmadi (1993: 67) menyebutkan bahwa, efektifitas suatu kegiatan komunikasi baru tercapai apabila memenuhi setidaknya 5 komponen berikut, yaitu:
- Adanya kesamaan kepentingan antara komunikator dengan komunikan.
- Adanya sikap yang mendukung dari kedua belah pihak.
- Sikap positif, artinya pikiran atau ide yang diutarakan dapat diterima sebagai suatu yang mendatangkan manfaat bagi keduanya.
- Sikap keterbukaan yang ditampilkan oleh kedua belah pihak.
- Masing-masing pihak mencoba menempatkan diri pada lawan bicaranya.
- Respect.Adalah respon positif terhadap lawan bicara berupa penghargaan dan penghormatan. Petugas humas harus menghargai lawan bicara dengan bersikap sopan dan ramah, menghargai setiap masukan dari lawan bicara
- Emphaty. Empathy adalah kemampuan untuk menempatkan diri pada situasi atau kondisi yang tengah dihadapi orang lain, mampu merasakan apa yang dirasakan oleh lawan bicara. Komunikasi akan terjalin dengan baik sesuai kondisi psikologis lawan bicara. Berempati berarti menempatkan diri sebagai pendengar yang baik, tidak menghakimi dan memberikan pemahaman terbaik.
- Audible. Audible dalam hal ini berarti pesan yang disampaikan harus dipahami dan dimengerti.Komunikasi lebih efektif, dengan kalimat sederhana dan dengan menggunakan bahasa tubuh, ilustrasi maupun contoh.
- Clarity.Clarity adalah kejelasan pesan yang disampaikan. Sebelum menyampaikan pesan harus dipastikan tujuannya. Informasi yang jelas tujuannya memudahkan lawan bicara memahami pesan.
- Humble. Penyampai pesan komunikasi harus memiliki sikap rendah hati, dengan memberikan kesempatan kepada lawan bicara untuk berbicara dan menyampaikan pendapat.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMita Rachmawati (24/XI OTKP 3)
BalasHapussip
HapusSuci Nurhidayati (XI OTKP 3/33)
BalasHapussip
HapusAyudya Emi Widiastuti (XI OTKP 3/08)
BalasHapus